Senin, 17 Februari 2020

Asal usul danau toba





Cerita Rakyat Tentang Asal Usul Danau Toba

14

Menurut informasi yang kita ketahui bersama, bahwa Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dimana terdapat sebuah pulau besar tepat berada ditengah-tengah danau yakni Pulau Samosir.
Danau Toba terletak di provinsi Sumatera Utara ini mendapat predikat sebagai danau terbesar di Asia Tenggara. Hingga saat ini daya tarik alamnya yang mempesona menjadikan lokasi ini menjadi wisata yang menarik bagi wisatawan dalam negeri maupun wisatawan luar negeri.
Pada umumnya mayoritas masyarakat yang tinggal d sekitar daerah Danau Toba bersuku Batak dengan ragam profesi sebagian besar adalah sebagai petani, pedagang dan nelayan. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh tentang bagaimana Danau Toba tercipta.
Berikut cerita rakyat yang rangkum dari berbagai versi legenda yang beredar di masyarakat luas tentang asal usul danau toba.

Asal Usul Danau Toba






Di sebuah desa di wilayah Sumatera Utara di Tapanuli tinggallah seorang laki-laki bernama Toba hidup seorang diri di gubuk kecil. Toba adalah seorang seorang petani yang sangat rajin bekerja setiap hari menanam sayuran kebunnya sendiri.
Hari demi hari, tahun demi tahun umur semakin bertambah, petani tersebutpun mulai merasa bosan hidup sendiri. Terkadang untuk melepaskan kepenatan diapun sering pergi memancing ke sungai besar dekat kebunnya.
Menjelang siang setelah selesai memanen beberapa sayuran dikebunnya diapun berencana pergi kesungai untuk memancing. Peralatan untuk memancing sudah dipersiapkannya, ditengah perjalanan dia sempat bergumam dalam hati berkata, “seandainya aku memiliki istri dan anak tentu aku tidak sendirian lagi hidup melakukan pekerjaan ini setiap hari. Ketika pulang dari kebun, makanan sudah tersedia dan disambut anak istri, oh betapa bahagianya”
Sampailah dia dimana tempat biasa dia memancing, mata kail dilempar sembari menunggu, agannya tadi tetap mengganggu konsentrasinya. Tidak beberapa lama tiba-tiba kailnya tersentak, sontak dia menarik kailnya. Diapun terkejut melihat ikan tangkapannya kali ini.
“Wow, sunggu besar sekali ikan mas ini. Baru kali ini aku mendapatkan ikan seperti ini” Teriaknya sembari menyudahi kegiatan memancing dan diapun segera pulang.
Setibanya di gubuk kecilnya, pemuda itupun meletakkan hasil tangkapannya di sebuah ember besar. Betapa senangnya dia, ikan yang dia dapat bisa menjadi lauk untuk beberapa hari. Diapun bergegas menyalakan api di dapur, lalu kembali untuk mengambil ikan mas yang ditinggalnya di ember besar. Betapa terkejutnya dia melihat kejadian tersebut. Ember tempat ikan tadi dipenuhi uang koin emas yang sangat banyak, diapun terkejut dan pergi ke dapur. Disanapun dia kaget setengah mampus, ada sosok perempuan cantik berambut panjang. “Kamu Siapa?”
“Aku adalah ikan engkau pancing di sungai tadi, uang koin emas yang diember tadi adalah sisik-sisik yang terlepas dari tubuhku. Sebenarnya aku adalah seorang perempuan yang dikutuk dan disihir oleh seorang dukun karena aku tidak mau dijodohkan. Karena engkau telah menyelamatkan aku dan mengembalikan aku menjadi seorang manusia, maka aku rela menjadi istrimu” kata ikan tadi yang kini sudah menjelma kembali menjadi seorang perempuan berparas cantik dan berambut panjang.
Ini suatu kebetulan, selama ini aku mengharapkan seorang pendamping hidup untuk tinggal bersama-sama menjalankan kehidupan berumatangga kata petani tersebut. Maka iapun setuju memperistri perempuan cantik tersebut.
Perempuan berparas cantik tadi juga mengutarakan kepada petani tadi sebuah syarat dan sumpah bahwa jika suatu hari nanti ketika engkau marah, engkau tidak boleh mengutarakan bahwa asal-usulku dari seekor ikan kepada siapapun. Sebab jika engkau mengatakan itu, maka akan terjadi petaka dan bencana besar di desa ini. Petani itupun menyanggupinya, dan akhirnya mereka menikah.
Hari demi hari merekapun hidup bahagia, apa yang diharapkan petani selama ini pun sudah terwujud dan diapun merasa bahagia sekali. Sampai merekapun dikaruniai seorang anak laki-laki dan mereka memberi namanya Samosir.
Samosirpun tumbuh besar, diapun sudah bisa membantu orangtuanya bertani. Setiap hari Samosir disaat siang selalu mengantarkan makan siang buat ayahnya yang sudah dimasakin oleh ibunya.
Suatu hari, siang itu petani sudah merasa lelah dan lapar sembari menunggu Samosir datang mengantarkan bekal siang. Tidak biasanya, kali ini Samosir terlambat mangantarkan bekal orangtuanya. Diperjalanan Samosir mencium bekal yang dibawanya untuk orangtuanya, kelihatannya enak masakan ibu hari ini, gumamnya. Samosirpun mencicipi masakan ibunya, dia tidak sadar bekal itu dimakan hampir habis.
Samosirpun tersentak dan bergegas menuju kebun ayahnya. Dia melihat ayahnya sudah kelaparan dan kehauasan. Merasa berat, Samosirpun memberikan bekal kepada ayahnya. Dan terkejutlah ayahnya melihat isi bekal yang diberikan Samosir.
“Iya, Among. Samosir tadi lapar dan aku makan, masakan Inong sekali rasanya” kata Samosir kepada ayahnya yang terlihat emosi. Spontan ayahnya marah dan melempar bekal yang sudah kosong tadi sembari berkata kepada Samosir: “Kurang ajar kau Samosir, dasar anak ikan kau ini”.
Samosirpun menangis dan pergi berlari menuju rumah menemui ibunya. Ibu, ibu , ayah marah besar Samosir disebut anak ikan. Kata Samosir kepada ibunya. Ibunyapun menangis, sektika itu ibunya menyuruh Samosir berlari ke sebuah bukit diketinggian. Lalu hujanpun semakin deras, angin kencang, gemuruh dan petirpun menyambar-nyambar seketika itu.
Airpun meluap sampai menenggelamkan seluruh desa itu. Sumpah itu dilanggar, akhirnya tengenanglah seluruh desa itu dan genangan itu berbuah menjadi danau, yang kini disebut Danau Toba. Lalu pulau tempat samosir berlindung disebutlah Pulau Samosir.

Jumat, 17 Januari 2020

Misteri Pantai Selatan

mitos pantai selatan jogja
Pantai selatan Jogja dikenal sebagai kawasan pantai yang punya ombak besar, pasir putih nan lembut, juga lanskap pemandangan yang indah. Kamu yang belum pernah berkunjung ke sini setidaknya harus mengunjunginya sekali dalam hidupmu. Mengapa? Karena selain indah, ada berbagai mitos pantai selatan Jogja yang membuat banyak orang penasaran.
Mungkin Kamu pernah mendengar sebuah mitos, bahwa ketika Kamu berkunjung ke pantai selatan tidak diperbolehkan menggunakan baju berwarna hijau. Mitos ini ternyata dikaitkan dengan cerita keberadaan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul. Dalam sebuah cerita Nyi Roro Kidul sering dilukiskan sebagai seorang ratu yang senang memakai baju hijau.
Saat Kamu ke pantai mengenakan baju hijau, maka Nyi Roro Kidul ini akan suka padamu dan kemungkinan akan mengambilmu sebagai abdinya. Maka itulah biasanya warga sekitar yang masih percaya pasti akan melarangmu memakai baju hijau saat ke pantai. Coba lihat di foto ini, hampir tak ada yang memakai baju hijau bukan?
mitos pantai selatan jogja
Selain mitos tentang baju hijau ini, masih ada beberapa mitos lainnya yang menyelimuti kawasan pantai selatan Jogja. Apa sajakah itu?

Suara gamelan yang memecah keheningan malam pantai selatan

mitos pantai selatan jogja
Warga di sepanjang pantai selatan pasti sudah tak asing lagi dengan mitos ini. Mitos tentang suara gamelan yang sering terdengar di tengah malam ini konon berkisah tentang Nyi Roro Kidul yang sedang melakukan perjalanan dari pantai selatan menuju Gunung Merapi. Suara gamelan atau drum band yang kerap terdengar ini adalah iring-iringan dari pasukan Nyi Roro Kidul.
Percaya atau tidak, saya dulu kerap mengalaminya juga. Setiap bangun jam 1-2 dini hari, selalu ada suara gamelan. Padahal di sekitar kampung tak ada orang yang melakukan pagelaran wayang atau punya hajat  lain. Anehnya lagi, gamelan selalu terdengar di jam-jam tersebut. Beberapa teman juga pernah mengalami hal yang sama bahkan mencoba mencari sumber suara, namun tak pernah berhasil.
Saya memang tak berpikir aneh-aneh, hanya mendengarkan beberapa saat lalu kembali melanjutkan tidur. Hanya saja terkadang terpikir, apakah mitos tentang rombongan Nyi Roro Kidul ini benar-benar ada? Bagaimana menurutmu? Atau Kamu juga pernah mengalami pengalaman yang sama dengan saya?

Parangtritis, gerbang ghaib yang menghubungkan dimensi dunia nyata dan kerajaan pantai selatan

mitos pantai selatan jogja
Parangtritis di kenal sebagai gerbang masuk kerajaan pantai selatan. 
Kamu mungkin masih ingat salah satu film berkategori dokumenter misteri yang sempat booming. Film yang bertajuk “Keramat” yang mengambil setting di Parangtritis dan Gunung Merapi ini menguak sebuah misteri. Bahwa ternyata Parangtritis merupakan gerbang masuk menuju dunia ghaib kerajaan pantai selatan.
Tak hanya di film Keramat saja, ternyata dalam dunia nyata juga mitos tersebut dipercaya benar adanya. Bahkan setidaknya ada 5 tempat lainnya yang dipercaya sebagai penghubung ke kerajaan Nyi Roro Kidul, yaitu Pantai Pelabuhan Ratu, Hotel Inna Samudera, Pantai Sembukan, Kraton Surakarta Hadiningrat, dan Vihara Kalyana Mitta.
Keenam tempat ini sampai saat ini masih aktif digunakan wisatawan untuk tempat wisata dan juga tempat penginapan. Tentang kebenaran mitos ini memang tidak ada yang tahu.

Ritual kejawen, salah satunya ritual sedekah laut

mitos pantai selatan jogja
Ritual kejawen sedekah laut. 
Masyarakat di sepanjang pantai selatan masih percaya akan ritual-ritual Jawa yang meminta kemakmuran. Ritual ini biasanya dilakukan oleh para masyarakat nelayan pesisir atau juga anggota kerajaan. Sedekah laut ini ditujukan untuk meminta restu dari penguasa laut dan juga meminta kemakmuran untuk satu tahun ke depan.
Mereka percaya bahwa melakukan ritual berarti akan menghindarkan diri dari sial dan musibah. Ritual sedekah laut diwarnai dengan pelarungan sesajen untuk Nyi Roro Kidul. Mungkin, Kamu yang bukan warga pesisir akan menganggap ini sebagai ritual biasa, tapi bagi mereka yang tinggal di pesisir, ritual ini sangat mistis dan magis.

Pesugihan yang kerap meminta tumbal manusia

mitos pantai selatan jogja
Misteri pesugihan Nyi Roro Kidul. 
Banyak orang yang sengaja meminta pesugihan pada Nyi Roro Kidul untuk bisa mendapat kemakmuran harta. Orang-orangpun menyebutkan untuk mendapat pesugihan dari pantai selatan harus melakukan ritual khusus dengan cara mempersembahkan sesajen.
Lebih seram lagi, orang yang meminta pesugihan ini juga harus memberikan persembahan tumbal dalam wujud manusia. Namun, cerita lain menyebutkan ada juga pesugihan yang tak perlu membutuhkan tumbal manusia. Yang jelas pesugihan memang bukan jalan yang baik ya gais untuk mendapat kemakmuran hidup.
***
Cerita mitos pantai selatan Jogja ini seolah sudah menjadi dongeng pengantar tidur bagi masyarakat pesisir selatan. Kita sebagai orang pendatang hendaknya menghormati apa yang menjadi keyakinan mereka. Ada baiknya juga mitos-mitos ini membuat kita menjadi lebih hati-hati dan waspada saat berlibur. Karena pada dasarnya kita tak pernah tahu kebenaran yang ada.